Pengganti tugas UTS
Ulasan film spotlight
1. Sinopsis Film Spotlight
Film Spotlight ini menjelaskan tentang sebuah tim dari Koran Harian The Boston Globe. Timnya terdiri dari Walter Robinson, sebagai editor, kemudian ada tiga reporter yakni Michael Rezendez, Sacha Pfeiffer, dan Matt Carroll, serta Ben Bradlee Jr. sebagai deputy editor. Koran Harian The Boston Globe memilih tim Spotlight ini sebagai tim andalan, tim ini dikhususkan menginvestigasi kasus-kasus besar dan prosesnya mampu memakan waktu panjang.
Editor baru The Boston Globe yaitu Marty Baron dari The Boston Globe, ingin menjadikan korannya penting bagi pembaca maka memberikan tugas kepada Tim Spotlight untuk melakukan investigasi terhadap John Geoghan. Geoghan yang seorang pendeta diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-laki yang sudah bertahun-tahun belum terungkap. Dimana pada kasus ini juga aparatur penegak hukum seperti Lembaga Peradilan, Jaksa Agung, dan Kepolisian tidak bisa berbuat banyak untuk kasus ini. Pada akhirnya kasus ini tidak menjadi permasalahan yang harus diungkap lagi. Karena Gereja itu punya sistem yang kuat dan diselimuti lembaga paling sakral. Pada awalnya mendapat protes karena mengetahui sulitnya untuk mengalahkan dominasi gereja di masyarakat namun kebenaran harus tetap terungkap bagaimanapun rintangan yang akan menghadang nantinya.
Mulai itu Tim Spotlite mulai bekerja mencari dokumen-dokumen yang sudah tertimbun bertahun tahun. Dan mulai mencari orang yang terlibat dari kasus tersebut mulai dari korban pelecehan seksual, pengacara, pengadilan, dan pastornya sendiri. Pertama dimulai dari pengacara Mitchael Garabedian yang dulu menjadi pengacara atau advokat bagi para korban pelecehan seksual yang dalam pengungkapan kebenarannya sering di ancam oleh gereja. Mike dengan ini menyebutkan bahwa The Boston Globe salah satu media massa lokal yang paling kuat pada waktu itu sehingga masyarakat akan percaya terhadap nanti apapun hasilnya.
Selanjutnya, keempat orang Tim Spotlite mulai wawancara terhadap para korban. Pertama mengundang Phil Saviano (korban), ke tempat The Boston Globe. Phil menuturkan terdapat 13 pastor yang terlibat dalam pelecehan seksual di Boston. Penuturannya Phil selaku korban, ketika kecil dia disuruh oral seks oleh pastor karena pada waktu itu phil menganggap bahwa pastor adalah sesuatu yang agung yang akan menjadi penyelamat bagi dirinya. Tetapi pastor telah melakukan pelecehan seksual secara fisik dan spritual. Karena para pastur telah merampok keimanannya demi kepuasan nafsu semata.
Korban yang kedua yaitu Joe yang di wawancarai oleh Sacha, dia seorang gay dia menuturkan bahwa ketika kecil diajak pastor dan terpaksa melakukan apa yang diinginkan pastor yaitu berhubungan intim pada waktu kecil. Selanjutnya, korban yang ketiga yaitu Patrick dengan bantuan Garabedian, akhirnya diwawancarai salah satu korban dari pastor Geoghan dalam pelecehan seksual terhadap anak anak. Pada waktu itu Patrick baru umur 12 tahun. Dan terdapat tambahan informasi yang diterima Mike dari yang bernama Richard yaitu peneliti pencabulan yang dilakukan pastor-pastor pada waktu itu. Dia menjelaskan bahwa itu adalah sebuah fenomena psikiatri sehingga harus benar-benar terungkap ketidakadilan ini. Dari hasil wawancara dengan korban yang menjadi target para pastor yaitu keluarga miskin, tidak mempunyai ayah, dan memliki watak pemalu supaya apa yang dilakukannya tidak disebarluaskan ke khalayak umum. Tim Spotlite juga kaget dengan penuturan dari Richard yang menyebutkan terdaapat 90 pastor yang terlibat dalam jaringan kasus ini. Setelah dicari data validnya akhirnya menemukan bahwa terdapat 87 pastor yang terindikasi melakukan kejahatan tersebut.
Berita besar ini tidak terungkap karena baik pengacara, gereja, pastor, uskup, dan keluarga korban sering diselesaikan dengan jalur kekeluargaan yaitu lebih tepatnya ganti rugi. Dan gereja juga mempunyai peranan dalam membisukan jaksa, polisi atau lembaga peradilan. Sehingga The Boston Globe fokus bukan ke kasus pastornya tetapi ke sistemnya yang begitu menggurita dan sulit untuk diungkap. Dari sini juga mulai terlihat daftar pelecehan seksual dan tim spotlite mulai mewawacarai korban pastor yang sangat banyak. Hal ini membuat kasus pelecehan seksual oleh pastor semakin terang.
Tim Spotlite mencari-cari dokumen rahasia yaitu keterlibatan pastor dan uskup pada kasus itu sejak bertahun-tahun. Namun ketika mencari dokumen rahasia tersebut banyak rintangan sehingga teramat sulit untik mendapatkannya. Dengan bantuan Garabedian akhirnya Mike mampu menemukan dan mengetahui isi dokumen rahasia tersebut. Isinya menyatakan bahwa Uskup yaitu Cardinal Law ternyata sudah tahu akan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pastor tetapi hanya diam saja melihat kejadian tersebut. Sudah jelaslah kasus tersebut, ketika detik-detik mau diterbitkan berita kasus ini. Robby menyatakan bahwa kita harus mencari data yang lengkap lagi dan harus ada konfirmasi dari pastornya sehingga berita ini akan penting bagi masyarakat dibalik kesucian pastor yang terlindungi oleh agama. Dan supaya ke 87 pastor tersebut mengakui kejahatan pelecehan seksual yang dilakukannya.
2. Review Film Spotlight
Film “Spotlight” merupakan film bertemakan investigasi informatis dan etika jurnalistik, plot film ini juga dikemas begitu intens melihat bagaimana tim Spotlight dengan etos kerja dan dedikasi yang begitu luar biasa dalam mengumpulkan bukti dan mencari petunjuk adalah sedikit dari hal-hal terbaik. Setiap clue baru mampu menghasilkan sensasi kejutan tersendiri sementara setiap halangan yang muncul sanggup membuatmu amarahmu terusik. Perjalanan mencari kebenaran memakan waktu selama berbulan-bulan karena sekali lagi tidak mudah mengumpulkan bukti-bukti termasuk sistem birokrasi yang rumit apalagi ketika harus melakukan wawancara dengan para korban yang traumatis.
Pemain mampu memerankan karakter tokohnya seusai kapasitasnya tanpa terlihat harus terlalu berlebihan atau menjadi yang paling menonjol di antara yang lain, baik itu pimpinan maupun bawahan semua terasa begitu penting perannya. Sementara elemen dramanya juga bekerja sama bagusnya ketika pencarian mereka akan sebuah kebenaran ternyata juga bisa berimplikasi dengan sisi personal tersendiri mengingat subjek yang mereka hadapi memang tergolong berat. Ada sebuah dilema moral yang harus dihadapi setiap tokohnya, bagaimana mereka memisahkan ego pribadi dan junjungan profesionalitas kerja, semua itu digambarkan dengan sangat relevan dan natural tanpa membuatnya menjadi semakin rumit.
3. Kekurangan dan Kelebihan Film Spotlight
Kelebihan film ini adalah film ini mengandung prinsip jurnalistik, yakni 1) mengupas habis permasalahan, 2) mencari informasi secara mendalam, 3) media massa harus merdeka dan independen, 4) menghalau rintangan media, 5) hasil berita harus mampu mengubah dan mengungkap kebenaran yang sebenarnya. Serta film ini menyajikan kasus jurnalistik yang sangat menarik dimana seorang jurnalis harus mampu mengungkapkan berita yang sebenar-benarnya, ditambah lagi jalan cerita dan konflik yang menarik membuat orang yang menonton akan terkesan.
Kekurangan film ini adalah mungkin agak sulit untuk mencerna Spotlight di menit-menit pertamanya karena McCharty langsung menggenjot naskah garapan Tom McCarthy dan Josh Singer dalam tempo yang cukup cepat. Akan ada sebuah kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan begitu banyak karakter dan nama-nama tanpa wujud berseliweran di 10-15 menit awal sebelum akhirnya perlahan namun pasti semua menjadi jelas dan teratur.
Selasa, 29 Oktober 2019
Tugas pengganti UTS
Ulasan film The Bang Bang Club
Benua Afrika sejak bertahun-tahun yang lalu selalu menjadi perhatian dunia. Afrika ibarat kuali yang panas, benua kaya yang selalu jadi rebutan orang-orang dari seberang. Jejak pertikaian itu terus tertanam, pertikaian yang bahkan selalu meminta korban jiwa bertahun-tahun setelah masa kolonialisme secara tersirat dikatakan berakhir.
Periode awal 1990an, dua kubu di Afrika Selatan saling membunuh satu sama lain. Hanya karena perbedaan pandangan politik mereka turun ke jalan, menghunus parang dan saling serang. Afrika Selatan ibarat kuali dengan suhu mendidih. Di sanalah kemudian beberapa jurnalis kulit putih mencari momen yang tepat membingkai perseteruan itu, mengabarkannya ke dunia serta tentu saja mengisi kantong mereka dengan uang.
Tersebutlah 3 orang jurnalis foto pada harian The Star, mereka adalah Kevin Carter, Ken Oosterbroek, dan Joao Silva ketiganya kemudian secara tidak resmi membentu sebuah klub yang mereka beri nama The Bang Bang Club. Nama yang secara tersirat menggambarkan kecanduan mereka pada situasi genting, situasi di mana desingan peluru, sabetan senjata tajam, luka menganga dan tangis kehilangan adalah makanan sehari-hari. Belakangan Greg Marinovich, seorang fotografer freelance kemudian bergabung dan menggenapkan anggota klub ini menjadi 4 orang.
Di antara keempatnya, Greg bisa dibilang yang paling nekat. Nyaris tanpa perhitangan sama sekali, dia kadang menjatuhkan dirinya ke dalam medan perang yang sesungguhnya, hanya berjarak beberapa meter dari maut. Kenekatan itu pula yang kemudian diganjar dengan Pulitzer Prize – hadiah paling bergengsi untuk para jurnalis – pada tahun 1990 untuk sebuah karya fotonya yang fenomenal.
3 tahun kemudian giliran Kevin Carter yang meraih penghargaan Pulitzer. Foto yang dramatis tentang seorang anak perempuan pengungsi Sudan yang kelaparan dan diintai seekor burung bangkai menjadi buah bibir di mana-mana. Kejadian di balik foto ini menjadi perdebatan tentang bagaimana sikap seorang jurnalis menghadapi situasi seperti itu, apakah membiarkan si anak kelaparan atau melakukan sesuatu untuk menolongnya ? Perdebatan yang ternyata membuat Kevin makin depresi.
The Bang Bang Club menceritakan bagaimana kisah di balik terciptanya foto-foto luar biasa itu beserta ratusan foto lainnya. Menjadi seorang jurnalis di tengah situasi panas oleh konflik tentu bukan hal yang mudah. Hati nurani akan terus terusik sementara di sisi lain kode etik jurnalisme harus terus dijunjung tinggi. Mereka adalah orang-orang yang terjebak dalam situasi tidak nyaman, hati mereka berperang dengan tuntutan tugas. Dalam beberapa situasi, kejadian-kejadian yang mereka rekam kemudian menetap dalam waktu lama dalam memori mereka bahkan hingga mengguncang kejiwaan mereka. Foto Kevin, peraih Pulitzer yang justru membuatnya depre
Salah satu korbannya adalah Kevin Carter. Setelah publikasi fotonya yang luar biasa menyentuh itu, semua orang kemudian menanyakan nasib si anak perempuan dalam foto tersebut. St. Petersburgh Times di Florida bahkan menyebut kalau Carter tidak ada bedanya dengan burung bangkai itu. Dia hanya peduli pada frame dan sama sekali tidak peduli pada nasib si anak perempuan. Tudingan ini menambah daftar alasan untuk depresi pada sosok Kevin Carter selain berderet alasan lain yang sudah terekam dalam ingatannya.
Puncaknya, pada 27 Juli 1994 Carter menghabisi nyawanya sendiri . Catatan bunuh dirinya menjadi bukti kalau dia sama sekali tidak bisa bertahan lagi dari segala macam trauma yang melekat selama masa pengabdiannya sebagai fotografer, ditambah lagi dengan kepergian temannya Ken yang meninggal dalam tugas.
Dari sisi sinematografi
The Bang Bang Club seharusnya menjadi semacam dokumentasi tentang kejadian di balik layar terciptanya ratusan foto menyentuh dari sebuah perang saudara di tanah Afrika di awal tahun 1990an. Dalam beberapa aspek, film ini cukup berhasil.
Departemen artistik bekerja keras untuk membawa gambaran Afrika Selatan yang keras dan panas di awal tahun 1990an. Beberapa scene dihadirkan lewat potongan gambar yang terasa begitu nyata dan dengan dengan gambar yang artistik dan enak dilihat. Emosi penonton digiring perlahan untuk ikut merasakan kerasnya pertikaian antar suku di AfSel waktu itu.
Meski begitu saya merasa masih ada yang kurang. Beberapa momen terkesan agak datar sehingga kemudian emosi penonton tidak terlalu dilibatkan. Entah, mungkin bila digarap dari angle yang berbeda momen tersebut bisa sangat menyentuh. Saya secara tidak sadar membandingkannya dengan Hotel Rwanda, sebuah film yang sama-sama diangkat dari kisah kejadian nyata tentang konflik horisontal di Afrika.
Film ini sudah cukup berusaha keras menghadirkan nuansa pertikaian serta konflik humanis dari para fotografer yang berada di garis depan. Karakter Kevin Carter yang digambarkan seakan punya dua kepribadian berhasil diperankan dengan baik oleh Taylor Kitsch, sementara karakter utama Greg Marinovich terlihat sedikit kendor di tangan Ryan Philippe meski sama sekali tidak buruk.
Secara umum film ini bisa saya bilang cukup nyaman untuk dinikmati meski menurut saya muatan emosi yang terkandung seharusnya bisa lebih dalam dikaji dan ditampilkan. Setidaknya film ini membawa kita lebih jauh menilik perjuangan emosi para jurnalis perang yang harus terbiasa melihat sajian darah dan kekerasan di depan mata mereka demi menjalankan tugas.
Bila tak kuat mental, memang sebaiknya menghindari profesi sebagai fotografer atau jurnalis. Apalagi mereka yang bertugas di garis depan. Catatan terakhir dari Kevin Carter secara tersirat menyiratkan kondisi itu. Kondisi di mana dia sangat depresi karena tekanan trauma yang menetap selama bertahun-tahun.
Ulasan film The Bang Bang Club
Benua Afrika sejak bertahun-tahun yang lalu selalu menjadi perhatian dunia. Afrika ibarat kuali yang panas, benua kaya yang selalu jadi rebutan orang-orang dari seberang. Jejak pertikaian itu terus tertanam, pertikaian yang bahkan selalu meminta korban jiwa bertahun-tahun setelah masa kolonialisme secara tersirat dikatakan berakhir.
Periode awal 1990an, dua kubu di Afrika Selatan saling membunuh satu sama lain. Hanya karena perbedaan pandangan politik mereka turun ke jalan, menghunus parang dan saling serang. Afrika Selatan ibarat kuali dengan suhu mendidih. Di sanalah kemudian beberapa jurnalis kulit putih mencari momen yang tepat membingkai perseteruan itu, mengabarkannya ke dunia serta tentu saja mengisi kantong mereka dengan uang.
Tersebutlah 3 orang jurnalis foto pada harian The Star, mereka adalah Kevin Carter, Ken Oosterbroek, dan Joao Silva ketiganya kemudian secara tidak resmi membentu sebuah klub yang mereka beri nama The Bang Bang Club. Nama yang secara tersirat menggambarkan kecanduan mereka pada situasi genting, situasi di mana desingan peluru, sabetan senjata tajam, luka menganga dan tangis kehilangan adalah makanan sehari-hari. Belakangan Greg Marinovich, seorang fotografer freelance kemudian bergabung dan menggenapkan anggota klub ini menjadi 4 orang.
Di antara keempatnya, Greg bisa dibilang yang paling nekat. Nyaris tanpa perhitangan sama sekali, dia kadang menjatuhkan dirinya ke dalam medan perang yang sesungguhnya, hanya berjarak beberapa meter dari maut. Kenekatan itu pula yang kemudian diganjar dengan Pulitzer Prize – hadiah paling bergengsi untuk para jurnalis – pada tahun 1990 untuk sebuah karya fotonya yang fenomenal.
3 tahun kemudian giliran Kevin Carter yang meraih penghargaan Pulitzer. Foto yang dramatis tentang seorang anak perempuan pengungsi Sudan yang kelaparan dan diintai seekor burung bangkai menjadi buah bibir di mana-mana. Kejadian di balik foto ini menjadi perdebatan tentang bagaimana sikap seorang jurnalis menghadapi situasi seperti itu, apakah membiarkan si anak kelaparan atau melakukan sesuatu untuk menolongnya ? Perdebatan yang ternyata membuat Kevin makin depresi.
The Bang Bang Club menceritakan bagaimana kisah di balik terciptanya foto-foto luar biasa itu beserta ratusan foto lainnya. Menjadi seorang jurnalis di tengah situasi panas oleh konflik tentu bukan hal yang mudah. Hati nurani akan terus terusik sementara di sisi lain kode etik jurnalisme harus terus dijunjung tinggi. Mereka adalah orang-orang yang terjebak dalam situasi tidak nyaman, hati mereka berperang dengan tuntutan tugas. Dalam beberapa situasi, kejadian-kejadian yang mereka rekam kemudian menetap dalam waktu lama dalam memori mereka bahkan hingga mengguncang kejiwaan mereka. Foto Kevin, peraih Pulitzer yang justru membuatnya depre
Salah satu korbannya adalah Kevin Carter. Setelah publikasi fotonya yang luar biasa menyentuh itu, semua orang kemudian menanyakan nasib si anak perempuan dalam foto tersebut. St. Petersburgh Times di Florida bahkan menyebut kalau Carter tidak ada bedanya dengan burung bangkai itu. Dia hanya peduli pada frame dan sama sekali tidak peduli pada nasib si anak perempuan. Tudingan ini menambah daftar alasan untuk depresi pada sosok Kevin Carter selain berderet alasan lain yang sudah terekam dalam ingatannya.
Puncaknya, pada 27 Juli 1994 Carter menghabisi nyawanya sendiri . Catatan bunuh dirinya menjadi bukti kalau dia sama sekali tidak bisa bertahan lagi dari segala macam trauma yang melekat selama masa pengabdiannya sebagai fotografer, ditambah lagi dengan kepergian temannya Ken yang meninggal dalam tugas.
Dari sisi sinematografi
The Bang Bang Club seharusnya menjadi semacam dokumentasi tentang kejadian di balik layar terciptanya ratusan foto menyentuh dari sebuah perang saudara di tanah Afrika di awal tahun 1990an. Dalam beberapa aspek, film ini cukup berhasil.
Departemen artistik bekerja keras untuk membawa gambaran Afrika Selatan yang keras dan panas di awal tahun 1990an. Beberapa scene dihadirkan lewat potongan gambar yang terasa begitu nyata dan dengan dengan gambar yang artistik dan enak dilihat. Emosi penonton digiring perlahan untuk ikut merasakan kerasnya pertikaian antar suku di AfSel waktu itu.
Meski begitu saya merasa masih ada yang kurang. Beberapa momen terkesan agak datar sehingga kemudian emosi penonton tidak terlalu dilibatkan. Entah, mungkin bila digarap dari angle yang berbeda momen tersebut bisa sangat menyentuh. Saya secara tidak sadar membandingkannya dengan Hotel Rwanda, sebuah film yang sama-sama diangkat dari kisah kejadian nyata tentang konflik horisontal di Afrika.
Film ini sudah cukup berusaha keras menghadirkan nuansa pertikaian serta konflik humanis dari para fotografer yang berada di garis depan. Karakter Kevin Carter yang digambarkan seakan punya dua kepribadian berhasil diperankan dengan baik oleh Taylor Kitsch, sementara karakter utama Greg Marinovich terlihat sedikit kendor di tangan Ryan Philippe meski sama sekali tidak buruk.
Secara umum film ini bisa saya bilang cukup nyaman untuk dinikmati meski menurut saya muatan emosi yang terkandung seharusnya bisa lebih dalam dikaji dan ditampilkan. Setidaknya film ini membawa kita lebih jauh menilik perjuangan emosi para jurnalis perang yang harus terbiasa melihat sajian darah dan kekerasan di depan mata mereka demi menjalankan tugas.
Bila tak kuat mental, memang sebaiknya menghindari profesi sebagai fotografer atau jurnalis. Apalagi mereka yang bertugas di garis depan. Catatan terakhir dari Kevin Carter secara tersirat menyiratkan kondisi itu. Kondisi di mana dia sangat depresi karena tekanan trauma yang menetap selama bertahun-tahun.
- Sinopsis Film Spotlight
Film Spotlight ini menjelaskan tentang sebuah tim dari Koran Harian The Boston Globe. Timnya terdiri dari Walter Robinson, sebagai editor, kemudian ada tiga reporter yakni Michael Rezendez, Sacha Pfeiffer, dan Matt Carroll, serta Ben Bradlee Jr. sebagai deputy editor. Koran Harian The Boston Globe memilih tim Spotlight ini sebagai tim andalan, tim ini dikhususkan menginvestigasi kasus-kasus besar dan prosesnya mampu memakan waktu panjang.
Editor baru The Boston Globe yaitu Marty Baron dari The Boston Globe, ingin menjadikan korannya penting bagi pembaca maka memberikan tugas kepada Tim Spotlight untuk melakukan investigasi terhadap John Geoghan. Geoghan yang seorang pendeta diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-laki yang sudah bertahun-tahun belum terungkap. Dimana pada kasus ini juga aparatur penegak hukum seperti Lembaga Peradilan, Jaksa Agung, dan Kepolisian tidak bisa berbuat banyak untuk kasus ini. Pada akhirnya kasus ini tidak menjadi permasalahan yang harus diungkap lagi. Karena Gereja itu punya sistem yang kuat dan diselimuti lembaga paling sakral. Pada awalnya mendapat protes karena mengetahui sulitnya untuk mengalahkan dominasi gereja di masyarakat namun kebenaran harus tetap terungkap bagaimanapun rintangan yang akan menghadang nantinya.
Mulai itu Tim Spotlite mulai bekerja mencari dokumen-dokumen yang sudah tertimbun bertahun tahun. Dan mulai mencari orang yang terlibat dari kasus tersebut mulai dari korban pelecehan seksual, pengacara, pengadilan, dan pastornya sendiri. Pertama dimulai dari pengacara Mitchael Garabedian yang dulu menjadi pengacara atau advokat bagi para korban pelecehan seksual yang dalam pengungkapan kebenarannya sering di ancam oleh gereja. Mike dengan ini menyebutkan bahwa The Boston Globe salah satu media massa lokal yang paling kuat pada waktu itu sehingga masyarakat akan percaya terhadap nanti apapun hasilnya.
Selanjutnya, keempat orang Tim Spotlite mulai wawancara terhadap para korban. Pertama mengundang Phil Saviano (korban), ke tempat The Boston Globe. Phil menuturkan terdapat 13 pastor yang terlibat dalam pelecehan seksual di Boston. Penuturannya Phil selaku korban, ketika kecil dia disuruh oral seks oleh pastor karena pada waktu itu phil menganggap bahwa pastor adalah sesuatu yang agung yang akan menjadi penyelamat bagi dirinya. Tetapi pastor telah melakukan pelecehan seksual secara fisik dan spritual. Karena para pastur telah merampok keimanannya demi kepuasan nafsu semata.
Korban yang kedua yaitu Joe yang di wawancarai oleh Sacha, dia seorang gay dia menuturkan bahwa ketika kecil diajak pastor dan terpaksa melakukan apa yang diinginkan pastor yaitu berhubungan intim pada waktu kecil. Selanjutnya, korban yang ketiga yaitu Patrick dengan bantuan Garabedian, akhirnya diwawancarai salah satu korban dari pastor Geoghan dalam pelecehan seksual terhadap anak anak. Pada waktu itu Patrick baru umur 12 tahun. Dan terdapat tambahan informasi yang diterima Mike dari yang bernama Richard yaitu peneliti pencabulan yang dilakukan pastor-pastor pada waktu itu. Dia menjelaskan bahwa itu adalah sebuah fenomena psikiatri sehingga harus benar-benar terungkap ketidakadilan ini. Dari hasil wawancara dengan korban yang menjadi target para pastor yaitu keluarga miskin, tidak mempunyai ayah, dan memliki watak pemalu supaya apa yang dilakukannya tidak disebarluaskan ke khalayak umum. Tim Spotlite juga kaget dengan penuturan dari Richard yang menyebutkan terdaapat 90 pastor yang terlibat dalam jaringan kasus ini. Setelah dicari data validnya akhirnya menemukan bahwa terdapat 87 pastor yang terindikasi melakukan kejahatan tersebut.
Berita besar ini tidak terungkap karena baik pengacara, gereja, pastor, uskup, dan keluarga korban sering diselesaikan dengan jalur kekeluargaan yaitu lebih tepatnya ganti rugi. Dan gereja juga mempunyai peranan dalam membisukan jaksa, polisi atau lembaga peradilan. Sehingga The Boston Globe fokus bukan ke kasus pastornya tetapi ke sistemnya yang begitu menggurita dan sulit untuk diungkap. Dari sini juga mulai terlihat daftar pelecehan seksual dan tim spotlite mulai mewawacarai korban pastor yang sangat banyak. Hal ini membuat kasus pelecehan seksual oleh pastor semakin terang.
Tim Spotlite mencari-cari dokumen rahasia yaitu keterlibatan pastor dan uskup pada kasus itu sejak bertahun-tahun. Namun ketika mencari dokumen rahasia tersebut banyak rintangan sehingga teramat sulit untik mendapatkannya. Dengan bantuan Garabedian akhirnya Mike mampu menemukan dan mengetahui isi dokumen rahasia tersebut. Isinya menyatakan bahwa Uskup yaitu Cardinal Law ternyata sudah tahu akan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pastor tetapi hanya diam saja melihat kejadian tersebut. Sudah jelaslah kasus tersebut, ketika detik-detik mau diterbitkan berita kasus ini. Robby menyatakan bahwa kita harus mencari data yang lengkap lagi dan harus ada konfirmasi dari pastornya sehingga berita ini akan penting bagi masyarakat dibalik kesucian pastor yang terlindungi oleh agama. Dan supaya ke 87 pastor tersebut mengakui kejahatan pelecehan seksual yang dilakukannya.
2. Review Film Spotlight
Film “Spotlight” merupakan film bertemakan investigasi informatis dan etika jurnalistik, plot film ini juga dikemas begitu intens melihat bagaimana tim Spotlight dengan etos kerja dan dedikasi yang begitu luar biasa dalam mengumpulkan bukti dan mencari petunjuk adalah sedikit dari hal-hal terbaik. Setiap clue baru mampu menghasilkan sensasi kejutan tersendiri sementara setiap halangan yang muncul sanggup membuatmu amarahmu terusik. Perjalanan mencari kebenaran memakan waktu selama berbulan-bulan karena sekali lagi tidak mudah mengumpulkan bukti-bukti termasuk sistem birokrasi yang rumit apalagi ketika harus melakukan wawancara dengan para korban yang traumatis.
Pemain mampu memerankan karakter tokohnya seusai kapasitasnya tanpa terlihat harus terlalu berlebihan atau menjadi yang paling menonjol di antara yang lain, baik itu pimpinan maupun bawahan semua terasa begitu penting perannya. Sementara elemen dramanya juga bekerja sama bagusnya ketika pencarian mereka akan sebuah kebenaran ternyata juga bisa berimplikasi dengan sisi personal tersendiri mengingat subjek yang mereka hadapi memang tergolong berat. Ada sebuah dilema moral yang harus dihadapi setiap tokohnya, bagaimana mereka memisahkan ego pribadi dan junjungan profesionalitas kerja, semua itu digambarkan dengan sangat relevan dan natural tanpa membuatnya menjadi semakin rumit.
3. Kekurangan dan Kelebihan Film Spotlight
Kelebihan film ini adalah film ini mengandung prinsip jurnalistik, yakni 1) mengupas habis permasalahan, 2) mencari informasi secara mendalam, 3) media massa harus merdeka dan independen, 4) menghalau rintangan media, 5) hasil berita harus mampu mengubah dan mengungkap kebenaran yang sebenarnya. Serta film ini menyajikan kasus jurnalistik yang sangat menarik dimana seorang jurnalis harus mampu mengungkapkan berita yang sebenar-benarnya, ditambah lagi jalan cerita dan konflik yang menarik membuat orang yang menonton akan terkesan.
Kekurangan film ini adalah mungkin agak sulit untuk mencerna Spotlight di menit-menit pertamanya karena McCharty langsung menggenjot naskah garapan Tom McCarthy dan Josh Singer dalam tempo yang cukup cepat. Akan ada sebuah kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan begitu banyak karakter dan nama-nama tanpa wujud berseliweran di 10-15 menit awal sebelum akhirnya perlahan namun pasti semua menjadi jelas dan teratur.
Minggu, 14 April 2019
Tugas Pengganti UTS “Straight News”
April 14 , 2019
13 April 2019 TNI dan POLRI Solo Raya Mulai Siaga Satu Menjelang Pemilu 2019
Surakarta- Lebih dari 35 ribu aparat TNI dan Polri dikerahkan untuk pengamanan jelang hari pemilu di Jawa Tengah. Solo Raya menjadi wilayah yang paling diantisipasi.
Untuk tingkat keamanan Solo Raya termasuk tingkat yang harus di antisipasi, hal termasuk dikarenakan dinamika kampanye di Solo Raya yang cukup tinggi.
“melihat dinamika kampanye yang cukup tinggi anggota TNI dan Polri mengadakan siaga satu. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi apabila ada pihak yang tidak terima” kata Eko (36) salah satu anggota TNI yang melakukan siaga satu di Solo Raya.
Siaga satu tersebut tidak hanya kesiapan fisik saat ada panggilan darurat, namun ada kesiapan peralatan yang selalu di bawa di setiap pagi setiap hari menjelang pemilu 2019. Pelaran tersebut seperti alat – alat mandi, bad tidur atau matras tidur, tas yang berisi alat – alat yang di gunakan jika ada kericuhan.
“Awalnya saya di kira mau pindah tugas ke luar jawa olleh keluarga saya karena meembawa perlengkapan yang cukup banyak. Padahal saya siaga satu di Solo Raya lebih tepatnya di Sukoharjo.” Penjelasan Eko (36) anggota TNI siaga satu Solo Raya.
Peralatan itu di gunakan jika terjadi hal - hal yang tidam di inginkan. Jadi jika ada apa - apa sudah siap siaga mereka tidak pulang kerumah.
Kini mendekati hari pencoblosan suasan semakin kondusif dengan adanya kerjasama Babinsa, Babinkamtibmas, dengan kepala desa di daerah masing-masing untuk bisa menenangkan masyarakat, memberikan ketenangan warga masyarakat, dengan tokoh-tokoh ulama yang da di desa itu, bahwa isu-isu hoax itu jangan sampai memecah belah. (Rusdiyah A.D.N)
April 14 , 2019
13 April 2019 TNI dan POLRI Solo Raya Mulai Siaga Satu Menjelang Pemilu 2019
Surakarta- Lebih dari 35 ribu aparat TNI dan Polri dikerahkan untuk pengamanan jelang hari pemilu di Jawa Tengah. Solo Raya menjadi wilayah yang paling diantisipasi.
Untuk tingkat keamanan Solo Raya termasuk tingkat yang harus di antisipasi, hal termasuk dikarenakan dinamika kampanye di Solo Raya yang cukup tinggi.
“melihat dinamika kampanye yang cukup tinggi anggota TNI dan Polri mengadakan siaga satu. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi apabila ada pihak yang tidak terima” kata Eko (36) salah satu anggota TNI yang melakukan siaga satu di Solo Raya.
Siaga satu tersebut tidak hanya kesiapan fisik saat ada panggilan darurat, namun ada kesiapan peralatan yang selalu di bawa di setiap pagi setiap hari menjelang pemilu 2019. Pelaran tersebut seperti alat – alat mandi, bad tidur atau matras tidur, tas yang berisi alat – alat yang di gunakan jika ada kericuhan.
“Awalnya saya di kira mau pindah tugas ke luar jawa olleh keluarga saya karena meembawa perlengkapan yang cukup banyak. Padahal saya siaga satu di Solo Raya lebih tepatnya di Sukoharjo.” Penjelasan Eko (36) anggota TNI siaga satu Solo Raya.
Peralatan itu di gunakan jika terjadi hal - hal yang tidam di inginkan. Jadi jika ada apa - apa sudah siap siaga mereka tidak pulang kerumah.
Kini mendekati hari pencoblosan suasan semakin kondusif dengan adanya kerjasama Babinsa, Babinkamtibmas, dengan kepala desa di daerah masing-masing untuk bisa menenangkan masyarakat, memberikan ketenangan warga masyarakat, dengan tokoh-tokoh ulama yang da di desa itu, bahwa isu-isu hoax itu jangan sampai memecah belah. (Rusdiyah A.D.N)
Jumat, 05 April 2019
Pada minggu yang lalu saya bertemu dengan salah saty teman saya yang sudah lam tidak bertemu dengan saya. Beliau sudah sangat berbeda jauh dengan yang dulu. Kulitnya lebih hitam, wajahnyabterlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Kurang lebih 15 menit berbasa basi dengannya saya menanyakan pekerjaannya. Ternyata beliau sekarang menjadi tukang ternak ayam. Saya menanyakan beberapa pertanyataan tentang usaha ternak ayamnya itu. Sudah ada 5 cabang yang dia punya. Tidak hanya itu ternak ayam itu juga di kembangkan dengan membuka rumah makan. Mendengar semua penjelasan dari teman saya menjadikan saya terkejut karena tidak menyangka yang dahulu dia oranv pemalas sekarang menjadi pekerja keras dan sukses. "Apa yang membuatmu menekuni ternak ayam ini hingga mempunya cabang? Pertanyaan yang tiba tiba saya ucapkan. "Karena saya hobby atau suka dengan ayam" jawabnya dengan cepat dan tegas sambil tersenyum. "Kamu taukan dari dulu saya suka mengadu ayam dan itu terkadang membuat ayam2 ku terluka jadi saya berfikir saya ingin membuat bisnis dengan ayam tapi yang menguntungkan utuk kehidupan saya" penjelasan dia.
Jumat, 29 Maret 2019
Hasil observasi benda mati
(Hp)
Barang elektronik. Benda itu dapat di gunakan untuk berkomunikasi. Benda itu berguna di masyarakat. Bentuk bendanya beragam ada yang besar dan kecil. Benda itu dapat dibawa kemana mana. Benda itu dapat di gunakan untuk mencari informasi. Jika terlalu lama di operasikan benda itu akan panas. Benda itu membutuhkam daya. Benda itu bisa di gunakan untuk menyimpan file, foto, lagu dan lain lain. Elektronik itu dapat menimbulkan rasa malas karena mencari sesuatu bisa secara instan. Pengguna bisa mnajadi lupa waktu belajar karena banyak sekali firur fitur yang ada di dalam alat itu. Sinar radiasi dari alat itu akan menimbulkan kanker apabila terlalu banyak terkena tubuh kita. Selain itu, Ponsel juga menyebabkan pemborosan, pengeluaran akan bertambahnya karena adanya fasilitas internet dan browsing.
(Hp)
Barang elektronik. Benda itu dapat di gunakan untuk berkomunikasi. Benda itu berguna di masyarakat. Bentuk bendanya beragam ada yang besar dan kecil. Benda itu dapat dibawa kemana mana. Benda itu dapat di gunakan untuk mencari informasi. Jika terlalu lama di operasikan benda itu akan panas. Benda itu membutuhkam daya. Benda itu bisa di gunakan untuk menyimpan file, foto, lagu dan lain lain. Elektronik itu dapat menimbulkan rasa malas karena mencari sesuatu bisa secara instan. Pengguna bisa mnajadi lupa waktu belajar karena banyak sekali firur fitur yang ada di dalam alat itu. Sinar radiasi dari alat itu akan menimbulkan kanker apabila terlalu banyak terkena tubuh kita. Selain itu, Ponsel juga menyebabkan pemborosan, pengeluaran akan bertambahnya karena adanya fasilitas internet dan browsing.
Jumat, 08 Maret 2019
Duck dan Simon Hunt, seorang reporter televisi yang bekerja untuk stasiun televisi di Amerika Serikat, mereka telah menjadi rekan selama kurang lebih 9 tahun. Mereka berkeliling medan perang dari Serbia hingga Bosnia untuk meliput dan melaporkan tentang perang yang berkecamuk disana. Hidup dan bekerja berdampingan dengan bahaya peluru yang berdesing, granat yang meledak, dan darah bukan hal asing bagi mereka karena mereka berkewajiban untuk meliput perang.
Pada saat bertugas Simon Hunt tidak sengaja jatuh cinta dengan seorang wanita yang bekerja sebagai pelayan di daerah Sarajevo bernama Martha. Wanita itu berasal dari sebuah kota kecil. Mereka berdua saling jatuh cinta. Bahkan, sekarang Martha mengadung anak dari Simon Hunt. Martha mendengar bahwa peperangan sedang terjadi di kota asalnya, ia langsung pulang untuk menghampiri keluarganya.
Beberapa lama kemudian Simon Hunt dan Duck harus meliput daerah perang tersebut, ternyata disana ia menemukan Martha telah tewas dan ia tertembak empat kali. Keadaan kota disana sangat parah, wanita muslim di perkosa, dan anak-anak disiksa ribuan orang dibunuh oleh seorang penjahat perang. Simon mengetahui siapa penjahatnya dan ia memiliki dendam tersendiri terhadap orang itu. Melihat banyak hal buruk yang terjadi, Simon Hunt enggan untuk melanjutkan pekerjaannya. Saat Duck merekam liputan Simon Hunt untuk siaran langsung di tv nasional Simon terpaksa berbicara kasar dan mengumpat yang menyebabkan ia dipecat dari tempat ia bekerja dan harus memulai lagi karirnya dari awal.
Di sebuah bar, tempat Duck dan teman-temannya sesama jurnalis berkumpul mereka membicarakan tentang seorang penjahat perang bernama “the fox” yang melakukan pembunuhan terhadap ribuan muslim dam pemerkosaan terhadap banyak wanita selama perang berjalan.
Keesokan harinya, setelah melaporkan langsung dari lokasi Simon Hunt memberi tahu Duck cerita yang selama ini ia tahu dan ia simpan ternyata ia mengetahui keberadaan dari the fox. Simon Hunt mengatakan, ia bersembunyi di daerah pegunungan di Serbia dan akan di hadiahi uang 5 juta dollar bagi siapapun yang berhasil menangkap the fox. Sebelumnya, Duck tidak tertarik atas tawaran Simon Hunt tersebut. Namun, ia tertarik karena mungkin ia berkesempatan untuk menwawancarai the fox dan dapat dijual mahal ke stasiun berita di tempat asalnnya.
Akhirnya, Duck bersama dengan Simon Hunt dan rekan barunya membentuk tim untuk mencari dan menangkap the fox mereka memulai dengan mencoba mencari bantuan dari NATO dan kepolisian setempat tapi ternyata tak satupun dari mereka berniat untuk mencari the fox. Sehingga merka bertemu dengan seorang pria bernama doris yang mengaku tahu keberadaan the fox. Namun, entah mengapa mereka mengaku bahwa mereka dari CIA. Mereka telah menghadapi banyak halangan dan rintangan bersama walau akhirnya mereka berhasil memojokan dan menangkap the fox.
Langganan:
Postingan (Atom)